5 Fakta Unik Dibalik Uang Pecahan Baru Rp 75.000

Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan telah resmi mengeluarkan pecahan edisi khusus baru dengan nominal Rp 75.000, tepat pada HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2020. Uang edisi khusus yang baru kini telah hadir. resmi menjadi alat pembayaran yang sah (legal tender) di wilayah Republik Indonesia.

Penerbitan dan pengedaran Hari Jadi ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia (UPK) Republik Indonesia telah diatur melalui Peraturan Bank Indonesia Nomor 22/11 / PBI / 2020, tanggal 14 Agustus 2020. Ketentuan tersebut mengatur tentang Penerbitan dan Peredaran Uang Rupiah Khusus. edisi HUT ke-75 Kemerdekaan Negara Kesatuan. Republik Indonesia Fraksi Emisi 75.000 Tahun 2020 (catatan peringatan).

Meskipun merupakan alat pembayaran yang sah, penerbitan UPK 75 Tahun Republik Indonesia (UPK 75 Tahun RI) yang diterbitkan dalam jumlah terbatas hanya 75 juta lembar. Berikut 5 fakta unik di balik uang pecahan Rp 75.000.

  1. Instrumen Pembayaran Resmi Meskipun Tercetak Terbatas

Meskipun dicetak dalam jumlah terbatas 75 juta eksemplar pada Hari Kemerdekaan Indonesia edisi Indonesia ini, namun merupakan alat pembayaran yang sah untuk melakukan berbagai transaksi keuangan di wilayah negara Republik Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 22. / 11 / PBI / 2020, tanggal 14 Agustus 2020. Diketahui bahwa perencanaan dimulai pada tahun 2018 berdasarkan ketentuan dan tata kelola dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

  1. Ramai sebagai Koleksi

Umumnya para pemungut uang hanya mengumpulkan uang lama dari masa penjajahan hingga uang yang sudah tidak berlaku lagi. Selain sulit didapat, uang yang merupakan koleksi ini menjadi sejarah sejarah karena bukan lagi merupakan uang pembayaran sah yang umumnya beredar di masyarakat.

Sedangkan baru Rp. Pecahan 75.000 pecahan meski legal tender, ternyata banyak juga yang diburu gubernur atau pembeli sebagai koleksi pribadi. Pasalnya, selain uang dikeluarkan momen khusus untuk memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan RI, juga dicetak terbatas hanya 75 juta keping.

  1. Keragaman desain khusus

Pecahan rupiah khusus Rp. 75.000 dirancang untuk menampilkan pakaian tradisional dari 9 wilayah yang belum pernah ditampilkan dalam desain uang sebelumnya. Makna di atas terwujud dalam desain uang pecahan Rp75.000 yang menampilkan gambar 9 anak Indonesia yang mengenakan pakaian adat, yang dimaksudkan untuk mempertegas keberagaman.

(Baca juga: Hari Polisi Wanita, Yuk Intip Sejarah Polwan di Indonesia!)

Pakaian adat tersebut berasal dari pakaian Ulee Balang dari Nangroe Aceh Darussalam, Kebaya Labuh dari Riau, Batik dan blangkon dari Jawa, Raja Baba dari adat Suku Dayak di Kalimantan Barat, pakaian adat dari Suku Tidung dari Kalimantan Utara, pakaian adat dari Nusa Tenggara Timur (NTT). ), Pakaian Adat Makuta dari Gorontalo, Pakaian Adat Cele dari Maluku, dan Pakaian Adat Koteka dengan hiasan kepala berupa rumbai dari Papua.

  1. Keamanan Khusus

Pencetakan terbatas membuat uang rupiah edisi khusus lebih rentan untuk dipalsukan. Namun, BI telah menyiapkan sejumlah cara untuk menjaga keamanan uang rupiah asli dengan teknologi tinggi dan bahan kertas khusus yang tahan lama sehingga sulit dipalsukan.

Diakui Bank Indonesia, inovasi terbaru ini bertujuan agar rupiah semakin otentik, nyaman, dan aman digunakan, serta semakin sulit dipalsukan. Untuk mencirikan keasliannya dapat dilihat dari fitur yang paling mendasar seperti pada desain uang sebelumnya yaitu 3D (seen, touch, dan ekspos).

Fitur lain yang bisa dikenali antara lain hasil cetakan yang menambahkan intaglio atau tanda kasar pada frase, dan logo Burung Garuda, gambar yang lebih mudah dilihat meski kurang cahaya, dan hasil cetakan cerah jika dilihat dari sinar ultraviolet.

  1. Bukan Redenominasi

Di desain baru Rp. Tagihan 75.000, jadi menarik dengan cetakan kecil angka nol. Sekilas, ternyata hanya angka 75 yang 75. Banyak yang mengaitkan hal ini dengan redenominasi sesuai dengan isu yang berkembang dari rencana Kementerian Keuangan yang telah mengusulkan 19 Rancangan Undang-Undang (RUU) yang tertuang dalam Program Legislasi Nasional Jangka Menengah (Prolegnas) 2020-2024. Dimana, salah satu yang termasuk dalam Prolegnas 2020-2024 adalah perubahan nominal rupiah alias redenominasi.

Namun, Bank Indonesia menjelaskan bahwa penerbitan pecahan baru tersebut bukan untuk redenominasi. Redenominasi hanya bisa dilakukan jika perekonomian stabil.

Postingan 5 Fakta Unik Dibalik Baru Rp. 75.000 tagihan muncul pertama kali di Smart Class.