Apa yang Kamu ketahui Tentang Indiche Partij?

Dalam fase sejarah bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan dari penjajahan Hindia Belanda, pergerakan nasional yang terjadi dari tahun 1908 hingga 1945 menjadi tonggak semangat untuk mewujudkan semua itu. Gerakan nasional pada umumnya dilakukan dengan menggunakan berbagai organisasi atau perkumpulan, mulai dari pendidikan, perdagangan hingga politik.

Organisasi atau perkumpulan yang dibentuk dimaksudkan untuk memfasilitasi penyebaran doktrin kepada bangsa Indonesia untuk memajukan kemerdekaan seutuhnya. Adalah organisasi Budi Utomo yang digagas oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo bersama Soetomo pada tanggal 20 Mei 1908, organisasi pertama yang menjadi tonggak munculnya organisasi lain dalam gerakan nasional, termasuk Indiche Partij.

Indische Partij adalah organisasi yang dibentuk oleh tiga serangkai Dr. E.F.E. Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), RM. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung. Bagaimana organisasi ini dimulai?

Semua Tentang Indiche Partij

Indische Partij, yang dalam bahasa Indonesia disebut Partai Hindia, merupakan organisasi politik pertama yang memiliki tujuan politik yaitu kemerdekaan Indonesia. Keberanian para pendirinya dalam memulai gerakan secara politik membuat gerakan ini lebih sulit dibandingkan dengan organisasi gerakan sebelumnya, karena Belanda menganggap organisasi ini sebagai ancaman. Atas dasar itu, Belanda tidak pernah memberikan izin atau pengakuan hukum kepada organisasi Indiche Partij.

(Baca juga: Sejarah Berdirinya Budi Utomo)

Bahkan, tiga sosok yang dengan lantang menyuarakan aksi tidak manusiawi yang mereka unggah di kolom De Expres itu sempat merasakan dinginnya tembok penjara dan pengasingan.

Seperti Raden Mas Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar dewantara), ia menjadi tokoh pertama yang menyuarakan tindakan tidak manusiawi ini dan menulis artikel 'Als ik een Nederlander' adalah '. yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti & # 39; Jika Saya Orang Belanda & # 39; di kolom De Express. Artikel ini membawanya ke jeruji besi dan menjalani pengurapan di Belanda karena menghina pemerintah.

Pendiri lain yang juga merasakan dinginnya dinding penjara dan pengasingan adalah dr. Cipto Mangunkusmo, yang menggunakan media yang sama dengan "De Express" untuk menerbitkan artikel yang mengangkat ketakutan, kekhawatiran, dan kekuatan, yang berisi sindiran terhadap pemerintah Belanda. Karakter lain, Douwes Dekker, merasakan hal yang sama, menulis dengan tajam. Ketiganya dijatuhi hukuman pengasingan di Belanda hingga 1919.

Sekembalinya dari pengasingan di Belanda, Ki Hajar Dewantara dan Douwes Dekker akhirnya mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Douwes Dekker pada tahun 1940 kemudian mendirikan Institut Ksatrian di Sukabumi, Jawa Barat. Hal ini didasari oleh kesadaran bahwa kemerdekaan penuh dapat diperoleh bangsa Indonesia melalui pendidikan. Ki Hadjar mendirikan Taman Siswa dan memperkenalkan istilah Tut Wuri Handayani. Sementara dr. Wahidin, di pengasingan di Belanda dan Pulau Banda, meninggal karena sakit parah.

Perjuangan untuk gerakan tidak berhenti di situ. Salah satu tokohnya, Douwes Dekker, meski organisasi Indische Partij terus mengalami kemunduran, justru semakin beringas dalam menuliskannya dalam sebuah artikel dan melahirkan Max Havelar dengan menggunakan nama samaran Multatuli hingga akhirnya diasingkan kembali ke Suriname. Hingga akhirnya Indische Partij bubar dengan sendirinya, seiring dengan perjuangan yang dilakukan oleh masing-masing dari ketiga pendirinya.

Posting Apa yang Anda ketahui tentang Indiche Partij? muncul pertama kali di Smart Class.