Mengintip Sejarah Madrasah di Indonesia

Beberapa dari kita tentu akrab dengan lembaga pendidikan yang disebut madrasah, kan? Paling tidak, ini sudah ada di Indonesia sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Madrasah sendiri, ketika merujuk ke Wikipedia, adalah kata Arab yang berarti sekolah. Asal kata tersebut diambil dari kata "darasa" yang berarti belajar. Secara teknis, ini kemudian dikonotasikan sebagai bangunan atau bangunan tertentu yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, fasilitas dan infrastruktur untuk mendukung proses pembelajaran pengetahuan agama, dan bahkan ilmu pengetahuan umum. Lantas, bagaimana sejarah madrasah di Indonesia?

Di Indonesia, madrasah dikhususkan sebagai sekolah (umum) di mana kurikulumnya berisi pelajaran tentang Islam. Setidaknya ada tiga level madrasah yang perlu diketahui, yaitu Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang setara dengan Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Madrasah Aliyah (MA) ) yang setara dengan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Sejarah madrasah di Indonesia dimulai pada tahun 1909, ketika Madrasah Abadiyah didirikan. Ini adalah madrasah pertama di Indonesia, yang didirikan di Padang, Sumatra Barat oleh Sheikh Abdullah Ahmad. Setelah ini, madrasah lain bermunculan, melengkapi pesantren dan surau yang sudah ada sebagai tempat untuk belajar dalam Islam.

(Baca juga: Sekolah Paling Mewah di Indonesia)

Di antara beberapa madrasah yang tumbuh pada periode ini, nama Madrasah Shcoel, yang didirikan pada 1910 di Kota Batu Sangkar, Sumatra Barat oleh Sheikh M. Talib Umar. Pada tahun 1912, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah, didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan dkk di Yogyakarta. Dari sini, sistem lembaga pendidikan yang menggabungkan pendidikan Islam dan umum mulai dibangun. Dan seiring berjalannya waktu, madrasah di Indonesia terus tumbuh.

Ada Al Irsyad Madrasah di Jakarta, didirikan oleh Sheikh Ahmad Sokarti pada tahun 1913, ada juga Diniyah Schoel yang didirikan di Kota Padang Panjang, Sumatra Barat pada tahun 1915, oleh Zainuddin Labai el Janusi, dan seterusnya hingga kelahiran Nahdlatul Ulama ( NU) pada tahun 1926, yang didirikan oleh KH Hasyim Ashari.

Namun, perkembangan pesat madrasah ternyata tidak membuat Belanda tenang. Tidak nyaman, pemerintah kolonial juga mengeluarkan peraturan yang menetapkan madrasah sebagai "sekolah liar", diikuti oleh sejumlah peraturan yang melarang atau membatasi madrasah.

Jadi, apakah madrasah dari Indonesia turun? Sebenarnya tidak. Sekolah ini masih berdiri di mana-mana, sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia untuk mendapatkan pendidikan. Meski begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perkembangan madrasah mulai dikecualikan. Setidaknya pada saat ini, madrasah masih dianggap sebagai pendidikan kelas dua.

Posting Mengintip Sejarah Madrasah di Indonesia muncul pertama kali di Smart Class.